20 Februari 2015

Hijrah Operator

Untuk kesekian kali, tema tentang social media akan dibahas. Kali ini saya khusus membahasnya tentang pengaruh sinyal operator telekomunikasi terhadap aktifitas di dunia social media. Dan, apakah Anda tahu bahwa terdapat pelajaran moral dari sinyal operator yang kita gunakan? Saya rasa tidak semua orang mengetahuinya, bahkan saya sendiri pun baru menyadarinya.

Sejak 10 tahun silam, semenjak saya memiliki hand phone, semenjak itu pula saya mengenal adanya operator. Ada operator berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan warna-warna lainnya. Saya pernah menggunakan operator seluler berwarna kuning, kemudian berganti ke warna merah, hingga sekarang, namun karena ada beberapa alasanl maka saya menambah operator selular lainnya, yaitu yang berwarna ungu. Ah, seperti lagu balonku ada lima saja ya warna operator selular ini :D

Saat pergantian kartu di master hand phone saya, terdapat sebuah kendala yaitu sinyal operator telekomunikasi-nya yang belum bekerja sempurna. Akhirnya seharian itu saya sulit sekali melakukan aktifitas di dunia social media. Ternyata dari kejadian tersebut saya merenung dan mengambil hikmahnya.

Hikmah dan pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah tentang hijrah. Apa hubungannya? Tentu saja ada. Secara tidak langsung saya telah melakukan hijrah, berpindah dari operator satu menuju ke operator lainnya yang menurut saya lebih baik, lebih terjangkau dan lebih mengerti kebutuhan saya. Tidak mudah dalam melaksanakan proses hijrah ini, apalagi saat kita menjalani proses terberat dalam hijrah yaitu adaptasi. Proses ini memerlukan waktu yang relatif lama, memerlukan tenaga yang banyak, memerlukan pemikiran yang mendalam, memerlukan kejernihan hati yang ikhlas.

Hijrah, kata ini pernah melekat begitu dalam di hati dan pikiran saya. Ya, saya pernah melakukan hijrah demi untuk menyelamatkan iman dari perbuatan dosa. Ya, saya pernah melakukan hijrah tempat tinggal, untuk mencari dan menemukan apa esensi dan tujuan hidup saya. Ya, saya pernah melakukan hijrah hati, untuk melengkapi separuh ibadah saya dan memperbaiki kualitas diri menjadi muslimah yang lebih baik lagi.

Alhamdulillah, di setiap langkah yang saya niatkan untuk hijrah memberikan hikmah positif dan dapat menolong saya untuk menjadi pribadi yang lebih berguna lagi. Alhamdulillah, saya mendapatkan apa yang memang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan. Alhamdulillah, karena saya tahu Alloh adalah Dzat Yang Maha Penyayang, Dia memberikan apa yang terbaik untuk saya.

Sedangkan hikmah kedua adalah tentang kekuatan doa, tentang seberapa berat kadar keimanan kita dalam beribadah dan tentang jawaban atas pertanyaan “kapan do’aku akan di-ijabah?”. Kembali lagi Anda pasti bertanya, apa hubungannya? Bila kita mengalami kendala dan masalah tentang sinyal operator seluler, maka kita merasa seakan-akan kita tidak mampu untuk melakukan apa pun. Kita tidak bisa update status, tidak bisa memajang foto selfie, tidak bisa pamer makanan yang baru dimasak, tidak bisa update lagi makan di restoran terkenal, tidak bisa menyebarkan pose mesra di tempat-tempat objek wisata, dan pekerjaan sia-sia serta mengandung riya lainnya, nau’dzubillah….

Nah, saat mengalami masalah sinyal tersebut, segala macam cara akan kita lakukan agar kita dapat segera membuka internet. Mulai dari memanjat pohon, naik ke atap rumah, pergi ke rumah teman yang sinyalnya bagus, atau langsung mengganti operator seluler-nya :D Apalagi bila ternyata percakapan pribadi (chatting) di jaringan pribadi terhambat, hanya terlihat tanda checklist atau bahkan tanda silang, wah bisa dipastikan sebagian orang akan mengeluarkan sumpah serapahnya kepada operator seluler yang digunakannya. Sebegitu pentingkah sinyal operator?

Bila sinyal operator memang sepenting itu, maka sama seperti sinyal do’a dan ibadah yang kita lakukan, bahkan jauh lebih penting dibandingkan sinyal operator mana pun di dunia ini. Bukankah kita tahu bahwa Alloh memiliki operator yang jauh lebih canggih dan dahsyat untuk umat-Nya. Kapan pun kita mau meminta dan memohon, selalu sampai dengan segera. Wuuuzzzhhh secepat kita berucap secepat itulah Allaoh juga mendengarnya.

Tapi masalahnya ada pada sinyal kita sendiri, coba kita ingat, kapan terakhir kita bermunajat dengan khusuk dan penuh kerinduan? Kapan kita melantunkan puji-pujian dan shalawat kepada Rasul SAW? Kapan kita benar-benar beribadah dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharap apa pun? Ah, saya sendiri pun mengakui kalau saya masih jarang melebarkan sinyal dalam bermunajat kepada-Nya :’( Sinyal ibadah kita ini sering terganggu oleh silaunya dunia, oleh nikmatnya dunia, oleh kemegahan dunia, oleh nyamannya dunia. Padahal bila kita mau memperkuat sinyal ibadah, apa pun yang kita minta akan dikabulkan oleh Alloh SWT, Insya Alloh, Aamiin ya Robb…


-200215-


0 komentar:

Posting Komentar

ShareThis