20 April 2015

Umi, Penerjemah Terbaik Saya

Semenjak menikah dan memutuskan untuk mengikuti kemanapun suami melangkah, semenjak itulah saya mengenal ibu mertua. Umi, begitu kami memanggil sosok ibu yang bersahaja itu. Kami masih tinggal di PIM (Pondok Mertua Indah), sama seperti kebanyakan pasangan suami istri lainnya yang belum mampu untuk memiliki rumahnya sendiri. Terlepas dari mampu atau tidaknya kami untuk memiliki rumah sendiri, kami hanya ingin menjaga umi yang merupakan seorang janda. Adalah lebih baik bagi kami untuk tinggal bersama umi dan menjaga beliau daripada memilih untuk mengontrak rumah dan tinggal terpisah.


Saya yang berasal dari tanah Sumatera (meskipun sebenarnya saya merupakan keturunan asli Jawa) diharuskan untuk segera beradaptasi dengan kehidupan tanah Sunda. Tanah yang berbeda bagi saya,  dimana masih banyak terdengar istilah-istilah asing di telinga saya, dimana masih banyak kebiasaan atau tradisi atau kultur atau bahkan jenis makanan yang juga berbeda.

Di satu sisi saya merasa asing, namun di sisi lainnya saya merasa senang karena banyak hal yang harus saya pelajari dan saya eksplore. Di sinilah peran serta suami dan umi, mereka selalu membantu saya untuk belajar mengerti dan memahami bagaimana kehidupan di tanah Sunda ini. Bahkan, umi selalu berada di samping sana kemana pun kami pergi hanya untuk menerjemahkan setiap kalimat bahasa Sunda yang diucapkan oleh orang lain.

Ya, proses belajar memang terasa selalu menyenangkan bagi saya. Apa pun jenis ilmunya, apa pun pengalaman serunya, apa pun kenikmatan pengetahuannya, semua terasa menyenangkan dan membahagiakan. Umi memang sangat membantu saya, dengan sabar beliau menjelaskan apa yang sedang saya pelajari.

Tidak jarang kami tertawa bersama akibat kesalahan bahasa Sunda yang salah saya terjemahkan. Misalnya ketika saya ingin mengatakan lupa, seharusnya saya mengucapkan “poho” tetapi yang saya ucapkan adalah “poek”, dimana “poek” berarti gelap. Saat itu saya mengucapkan kata “poek” dengan kencang kepada seorang ibu karena lupa menitipkan uang arisan, tetapi ibu tersebut dan umi justru bingung, bahkan umi sempat bertanya, “Apanya yang poek? Bukankah langitnya cerah?”. Saya yang masih tidak sadar mengulangi lagi kata “poek” itu dan menjelaskan kelupaan saya tentang uang arisan. Seketika meledaklah tawa umi dan ibu tersebut karena salah pengucapan bahsa Sunda yang saya katakan. Ah, begitu malunya saya.

Atau ketika saya ditanya oleh teman umi, “Udah bisa bahasa Sunda ya neng?”, dengan percaya diri saya menjawab, “Atos  bu, saluetik-saluetik”. Maksud saya ingin mengatakan sedikit-sedikit sudah bisa, namun yang saya katakan itu justru melenceng artinya yaitu kecil-kecil. Ya pastinya mengundang tawa orang-orang yang mendengarnya. Malu? Sudah pasti, tapi saya tetap tidak kapok untuk belajar mengucapkan bahasa Sunda. Kalau takut malu karena salah ya tidak akan pernah bisa belajar dan tidak akan tahu apa yang salah dan apa yang benar kan :D Ya, di situlah letak kenikmatannya belajar, kita selalu bisa menertawakan kesalahan karena kita tahu bahwa kita tidak akan pernah mengetahui kebenaran bila kita tidak melakukan kesalahan.

Tidak jarang umi bertingkah seperti guru yang memberikan ujian dadakan kepada muridnya. Umi sering melakukan tes dadakan kepada saya tentang bahasa Sunda. Ketika sedang mendengarkan ceramah pengajian yang disampaikan dengan bahasa Sunda campur bahasa Indonesia, umi sering bertanya “Mengerti tidak artinya apa?”. Tentu saja dengan percaya diri saya menganggukkan kepala tanda “Iya, saya mengerti”. Umi kembali bertanya, “Apa artinya?”. Saya jelaskan apa maksud yang saya tangkap dari bahasa Sunda yang disampaikan, meskipun saya masih sering salah mengartikannya, hahaha.

Bahasa Sunda memang tidak mudah dipelajari, ada bahasa Sunda halus dan ada bahasa Sunda kasar. Umi juga mengajari saya kata-kata yang berkonotasi negatif agar saya mengerti bila orang lain mengucapkannya kepada saya dan agar saya tidak asal berucap bahasa Sunda yang bisa berakibat menyingung orang lain.

Umi, begitulah saya sering memanggil beliau bila membutuhkan bantuan. Umi, seperti itulah saya menyebutnya bila menanyakan resep masakan kesukaan suami. Umi, kepada beliaulah saya menoleh bila membutuhkan penerjemah bahasa Sunda-Indonesia. Umi, begitulah saya menyebut penerjemah terbaik saya.

Selamat hari Kartini untuk Umi J


-200415-




1 komentar:

Tanti Amelia mengatakan...

Terimakasih banyak partisipasinya yaa

Posting Komentar

ShareThis