23 Maret 2012

Romantika Rumah Tangga Remaja

Judul di atas sepertinya merupakan kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang akan saya sampaikan, terkait dengan rumah tangga para remaja, yang sebagian besar menikah karena MBA (Married By Accident). Saya rasa, istilah MBA tersebut sudah sangat familiar di telinga kita, yang bila diartikan dalam bahasa awam adalah menikah karena keburu hamil duluan.

Sebagian besar remaja yang tinggal di sekitar lingkungan tempat tinggal saya telah menikah, jalan ini terpaksa mereka ambil karena perut sang remaja putri telah memblendung. Di sini, saya bukan bermaksud membuka aib mereka, hanya sebagai sharing atas kenyataan yang selama ini saya lihat dan perhatikan. Karena, sekitar 90% remaja wanita yang menikah (yang ada di sekitar lingkungan rumah saya) karena MBA, astagfirullah….

Entah siapa yang memulai, hingga MBA ini seperti wabah yang sedang trend. Tidak ada lagi rasa malu bersanding di pelaminan dengan perut yang telah membuncit, yang bahkan tidak bisa lagi tersamarkan  dengan pakaian pengantin. Ada orang tua yang stress tapi ada juga orang tua yang ikhlas menerima keadaan anaknya.

Saya rasa, kejadian seperti ini juga banyak terjadi di daerah lainnya, sudah menjadi rahasia umum, trend masa kini, kata orang-orang. Dan yang lebih anehnya, kita seolah menyetujui tindakan mereka dengan ketidakpedulian. “Setiap orang kan punya urusan masing-masing mbak”, iya, benar, saya setuju dengan argumen tersebut, tetapi alangkah menyedihkannya masa depan remaja putri yang harus menghabiskan masa kejayaannya hanya karena kepuasan sesaat.

Ada beberapa dari mereka yang saya kenal dekat, sehingga mereka tidak sungkan bercerita tentang kehidupan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung tersebut. Saya sendiri tidak pernah merasa keberatan bila mereka curhat atau sekedar sharing, saya justru merasa senang karena dari cerita merekalah saya mendapatkan gambaran seperti apa kehidupan rumah tangga, tentunya selain sebagai ilmu tambahan juga sebagai bekal saya bila (Insya Allah) nanti saya menikah.

Sebut saja namanya Ana, seorang remaja yang berusia sekitar 20 tahun dan telah memiliki seorang anak yang berusia sekitar 7 bulan. Keluarga Ana sangat disiplin dan ayahnya selalu menerapkan jam malam bagi semua anaknya. Setiap jam 9 malam, ayahnya tidak memperbolehkan siapapun keluar rumah. Pintu rumah dan pagar langsung di kunci dan bila anaknya belum ada yang pulang, maka ayahnya akan marah besar. Namun, kedisiplinan ternyata tidaklah cukup untuk melindungi anak-anak remaja dari pergaulan bebas. Salah seorang kakak Ana, sebut saja namanya Bella, telah hamil 7 bulan tanpa diketahui oleh siapapun juga. Usut punya usut, ternyata yang menghamilinya adalah teman kerjanya, dan, si lelaki tersebut telah beristri dan memiliki 4 orang anak! Mau tidak mau, akhirnya orang tuanya pun menikahkan mereka, meski menjadi pergunjingan warga karena ketika resepsi pernikahan dilaksanakan, Bella tidak disandingkan di pelaminan, karena kehamilannya telah mencapai usia 7 bulan.

Tidak berbeda dengan kakaknya, Ana, yang tergolong ramah dan gaul ternyata juga mengalami nasib yang sama, meski calon suaminya bukanlah lelaki yang telah berisitri. Ana menikah karena MBA, dan hal ini menjadi aib kembali bagi orang tua dan keluarganya. Sungguh, betapa hancur hati orang tuanya ketika anak perempuan mereka kembali menorehkan arang ke wajah. Kembali, warga menggunjingkan hal tersebut. Meskipun malu, namun resepsi pernikahan Ana termasuk mewah. Ya, namanya juga orang tua, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya.

Ana bercerita tentang kehidupan rumah tangganya, tentang perasaannya, tentang penyesalannya dan tentang kesusahannya. Usia Ana terpaut sekitar 3 tahun dari umur suaminya, sehingga seharusnya suaminya mampu menjadi pengayom bagi istri dan anaknya. Namun, hal itu tidak terjadi pada kehidupan rumah tangga Ana. Masing-masing masih menuruti egonya, tidak ada yang mau mengalah dan keras kepala. “Pernah mbak, kami bertengkar. Trus suamiku membuang helm-nya ke selokan. Eh, besok paginya diambilnya juga, mau nggak mau, malu nggak malu, karena mau dipakai untuk kerja, hahaha…” ceritanya singkat tentang salah satu pertengkaran mereka.

Selain masalah ego, mereka juga mengalami masalah kesulitan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Bahkan, Ana pernah makan hanya dengan nasi, kecap dan kerupuk saja karena tidak memiliki uang sama sekali, padahal dia masih memberikan ASI kepada putri semata wayangnya, sungguh keadaan yang sangat miris. Sosok penampilannya yang dulu gaul, trendi dan glamour hilang entah kemana, berganti dengan tampilan khas emak-emak yang biasa saja. “Yang penting anakku sehat mbak”, begitulah sosok Ana yang mementingkan anaknya.

Bila sedang bertangkar, baik dengan suami, maupun dengan ipar (Ana tinggal di rumah mertuanya), Ana merajuk dan pulang ke rumah orang tuanya. Ana tidak akan kembali ke rumah mertuanya bila sang suami tidak menjemputnya, atau bila sang mertua tidak menelponnya dan menyuruhnya agar kembali pulang. Pertengkaran dan pertikaian seperti itu adalah hal yang wajar dalam kehidupan berumah tangga, apalagi dengan mertua atau ipar yang sering iri-irian, hal yang kekanakan tapi tetap nyelekit.

“Mbak, puas-puasin dulu deh masa-masa sendirinya. Ntar, kalau udah nikah, nggak bakalan bisa seneng-seneng. Capek ngurusin suami, anak dan tetek bengek lainnya”, nasehat Ana kepada saya. “Memang, dulu aku nikah karena hamil duluan. Enaknya cuma sebentar, abis itu meranaaaaa…. Nyesel deh kawin cepat-cepat” serunya lagi yang disambut dengan gelak tawa. Mungkin, karena pengetahuannya akan dunia anak masih sangat kurang, hingga tanpa sadar putri kecilnya itu menelan tisu makan. Sejak awal saya sudah mengatakan dan memberitahu, jangan memberikan tisu makan itu kepada anaknya karena akan dimakan, namun Ana tidak menggubrisnya. Salah satu resiko menikah karena MBA adalah ketidaksiapan mental untuk mendidik anak karena kurangnya pengetahuan si ibu, kembali miris saya.

Lain cerita Ana, lain pula cerita remaja putri lainnya, sebut saja namanya Celly. Celly adalah teman dekat Ana dan mereka memiliki sebab perjalanan yang sama ketika membangun kehidupan rumah tangga, yaitu MBA. Kasus Celly sedikit lebih ramai dari Ana, tentu saja karena pendidikan keluarga Celly yang tergolong keras dan disiplin, karakter ayah Celly juga sama seperti karakter ayah Ana, tegas. Dan, sekali lagi, sikap keras, tegas dan kedisiplinan itu tidak mampu menjadi pelindung bagi seorang anak perempuan dari kejamnya kebebasan dunia. Celly hamil.

Ketika itu, Celly mengalami kehamilan untuk pertama kalinya. Celly panik dan menceritakannya kepada Ana. Ana memberikan solusi untuk mengonsumsi nenas muda dan beberapa ramuan jamu untuk menggugurkan kandungan. Mungkin, usia kandungan Celly saat itu masih muda, sehingga janinnya pun gugur. Kehamilan dan penguguran itu tidak diketahui oleh keluarga Celly. Entah setan apa yang melekat di diri Celly dan pacarnya, hingga mereka tidak merasakan penyesalan dengan tindakan tersebut, mereka melakukannya lagi dan lagi. Celly pun kembali hamil, dan kali ini, berbagai ramuan jamu tidak mampu mengugurkan kandungannya. Celly stress, mau tidak mau mereka harus mengatakan yang sejujurnya kepada orang tua dan keluarga Celly.

Shock dan stress menerpa orang tua Celly, termasuk kakaknya. “Cell, zaman sekarang ini orang sudah maklum kalau seorang anak gadis sudah tidak perawan. Tapi, kalau sudah hamil di luar nikah, itu aib yang sangat besar” , begitulah kalimat yang pernah diucapkan kakak Celly (meskipun saya sendiri tidak menyetujui apa yang dia sampaikan, itu sama saja mendukung free sex donk -____-“). Akhirnya Celly yang kehamilannya telah memasuki bulan ke-7, dinikahkan dengan pacarnya. Meskipun resepsi pernikahan mereka terkesan mewah, karena Celly adalah anak bungsu, namun, wajah kedua orang tuanya tidak secerah pesta itu. Raut stress dan menanggung rasa malu tergambar jelas di wajah orang tua Celly. Resepsi pernikahan yang mewah ini justru seperti tamparan yang sangat keras, kembali, orang tua yang menanggung malu. Sekarang, kehidupan rumah tangga Celly tidak semerana Ana, Celly hidup berkecukupan dan kini telah melahirkan anak keduanya.

Remaja ketiga yang MBA juga sebut saja namanya Devi, remaja yang masih duduk di bangku SMU, saya tidak begitu mengenalnya, tetapi saya mengenal ayahnya. Ayahnya bekerja sebagai seorang penarik pecak motor dan merupakan becak motor langganan keluarga saya. Suatu pagi, ketika saya sedang menyapu rumah, Devi datang dengan mengendarai sepeda motor. Ada yang ganjil dari penampilannya, seingat saya, dia tidak segemuk itu, apalagi dia mengenakan daster berukuran besar, yang tampak semakin menggelembungkan badannya. Namun, saya tidak ambil pusing, toh bukan urusan saya. Devi meminta belimbing wuluh yang ada di pekarangan rumah, “Kak, minta belimbingnya ya”, pintanya, “Ok, ambil aja” jawab saya.

Selang beberapa hari setelah itu, di pagi buta setelah sholat Subuh, ayah Devi tiba-tiba datang ke rumah dan menjumpai kakek saya. Beliau meminta kepada kakek agar sudi menjadi saksi bagi pernikahan putrinya, Devi. Mungkin karena terburu-buru atau karena sebab yang lain, pernikahan Devi dan pacarnya dilaksanakan setelah sholat Subuh, tentu saja tidak banyak orang yang datang, karena masing-masing orang sedang bersiap berangkat kerja atau urusan lainnya.

Cerita tentang pernikahan Devi ini benar-benar membuat warga di sini terguncang, bagaimana tidak, lelaki yang menghamili Devi adalah salah seorang remaja masjid! Astagfirullah… berita ini menjadi buah bibir warga. Rumah Devi memang dekat dengan masjid, bahkan berhadapan langsung dengan pekarangan masjid. Saya sendiri tidak mengenal para remaja yang tinggal di masjid, yang saya tahu, mereka sedang melanjutkan kuliah dan menumpang tinggal di masjid.

Terkait kasus ini, saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka melakukannya??? Ah, dunia semakin gila rasanya, sangat miris melihat hal ini. Kehidupan keluarga Devi yang pas-pas-an harus menanggung malu dan menanggung anggota keluarga baru lagi, semakin sulit keadaan ekonomi mereka. Ketika dinikahkan, usia kehamilan Devi telah mencapai 7 bulan, ternyata itu yang membuatnya terlihat lebih gemuk dari biasanya, dan sekarang sedang menyiapkan kelahiran anak pertamanya. Devi akan menjadi seorang ibu di usianya yang masih 20-an, melepaskan pendidikan demi mengasuh anaknya dan menjalani kehidupan rumah tangga. Nasib yang sama dengan sepupu Devi, yang lebih dulu meninggalkan bangku sekolah dan tidak menamatkan pendidikan SMU-nya karena keburu MBA.

Suatu ketika, sedang ada pengajian di masjid, saya mendengarkan dengan seksama di dalam rumah. Topik yang diangkat oleh penceramah tersebut adalah tentang pernikahan yang terpaksa harus dilaksanakan karena hamil duluan beserta dengan hukum dalam Islam terkait dengan hal tersebut. Ternyata, penceramah tersebut adalah salah satu saksi pernikahan Devi dan suaminya, remaja masjid itu. Secara gamblang beliau memberikan ceramahnya, mungkin maksud beliau bukan untuk menyindir, namun lebih kepada mengingatkan dan apa pandangan Islam menyikapi hal seperti ini.

Meskipun rumah keluarga Devi sangat dekat dengan masjid, bukan berarti mereka jamaah setia masjid, sehingga sang penceramah kembali mengingatkan bahwa sholat adalah tiang agama yang Insya Allah akan menahan semua perbuatan maksiat. Dan, Allah akan memberikan hidayah-Nya kepada siapapun yang Dia inginkan.

Kisah berikutnya, berbeda dari cerita di atas, salah seorang teman saya yang telah menikah, sebut saja namanya Fany. Fany juga merupakan remaja yang gaul, glamour dan trendi. Fany memiliki seorang pacar yang sangat setia dan mereka melakukan free sex berulang kali. Untuk menjaga agar Fany tidak “kebobolan” seperti remaja putri lainnya, maka Fany melakukan tindakan yang bisa dikatakan berbahaya. Fany membalik rahimnya dengan tujuan agar tidak hamil, tindakan ini dilakukan atas bantuan dari seorang tukang kusuk (urut) langganannya. Baru pertama kali itu saya mendengar metode seperti ini, dari banyak kasus free sex, biasanya para remaja putri menggunakan alat atau mengonsumsi obat kontrasepsi atau menggunakan cara lainnya, untuk melindungi mereka dari kehamilan.

Metode yang digunakan Fany memang termasuk berbahaya, bila salah melakukan urut akan berakibat fatal. Tapi, demi menjaga kehormatan orang tua dan keluarganya, Fany mampu melakukannya. Hingga berselang pernikahan Fany dengan pacarnya tersebut, Fany memang tidak pernah mengalami kehamilan. Namun, saat ini pernikahannya hampir mencapai satu tahun, dan belum ada tanda-tanda kalau Fany akan hamil. Fany pun kembali kepada tukang kusuk (urut)-nya itu, dan meminta agar posisi rahimnya dikembalikan seperti semula. Fany berharap dengan tindakan tersebut dia dapat segera hamil, meskipun saat-saat itu belum juga tiba, Fany dan suaminya bersabar.

Begitulah sekelumit romantika kehidupan rumah tangga para remaja, miris? Tentu saja. Gambaran yang menyedihkan dan mengerikan dari kehidupan free sex dan menikah dini karena MBA. Kebanyakan dari mereka merasa menyesal dan merasa iri melihat teman-teman mereka yang lain masih bebas bermain sesuka hati dan menikmati hidup, tanpa harus menggendong anak kemana-mana, tanpa harus berpakaian daster yang lusuh, tanpa harus bertengkar ego dengan suami, dan kericuhan kehidupan rumah tangga lainnya.


Apa yang saya dapatkan dari segelintir kisah mereka adalah pelajaran yang sangat berharga, adalah ilmu yang tidak bisa saya dapatkan dari cabang kuliah manapun juga, karena mereka adalah sumber ilmu itu sendiri. Mereka yang telah merasakannya dan melakukannya, memiliki banyak pengalaman yang bisa dijadikan acuan sebelum membangun sebuah biduk rumah tangga. Seperti apapun kondisinya, membangun dan mempertahankan rumah tangga memang tidak mudah, terlebih di usia dini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari beberapa kisah yang saya sajikan ini, semoga, tidak ada lagi resepsi pernikahan yang berlatar belakang MBA, amin amin ya robbal’alamin.


220312

0 komentar:

Posting Komentar

ShareThis