27 Juli 2012

Ketika Berkendara, Anda Pilih Emosi Atau Pilih Sabar?


Sumber Gambar
Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika kita sedang berkendara, baik menggunakan kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat, maupun menggunakan kendaraan lainnya. Resiko kecelakaan selalu saja dapat terjadi, baik itu dari faktor kendaraan yang bermasalah atau dari faktor human error atau juga memang sudah takdir ketentuan Allah SWT.

Luka ringan hingga luka parah, luka luar hingga luka dalam, luka fisik hingga luka mental, luka yang bisa disembuhkan hingga luka yang tidak bisa disembuhkan, luka yang memakan waktu lama hingga luka yang sebentar, luka yang kecil hingga luka permanen. Semuanya bisa terjadi di atas jalan raya, tempat dimana seharusnya jargon “Welcome to The Jungle” seharusnya berada.

Semua orang mengetahui apa saja resiko tersebut dan mengerti bahwa hal-hal itu dapat menimpa siapa saja, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, miskin atau kaya, dan kategori manusia lainnya. Tetapi, pada kenyataannya, masih banyak manusia yang bandel dan ngeyel ya ketika berada di jalan raya. Hal yang sudah menjadi rahasia umum ternyata.

Tulisan ini saya buat berdasarkan salah satu pengalaman yang sangat mengerikan ketika berada di jalan raya. Ketika itu, saya menumpang di mobil teman saya. Total penumpang berjumlah tiga orang, saya, teman saya dan pacarnya. Singkat cerita, mereka berdua sedang mengalami konflik, dan saya seperti orang yang tidak seharusnya berada di situ.

Pertama, si lelaki sedang berkomunikasi menggunakan handphone tanpa menggunakan headset. Kedua, entah masalah apa yang terjadi tiba-tiba si lelaki sangat emosi dengan orang di seberang sana yang diteleponnya. Ketiga, teman saya (pacarnya si lelaki) berusaha untuk menenangkan si lelaki tersebut. Keempat, si lelaki semakin emosi dan teman saya semakin bingung sampai terjadi tarik-menarik handphone. Kelima, teman saya akhirnya berteriak histeris dan mengguncang-guncangkan mobil. Keenam, mobil masih melaju dengan kecepatan 60 km/jam dan suasana jalan raya yang lumayan padat. Ketujuh, saya yang dari awal hanya diam karena tidak mau ikut campur akhirnya harus mengambil tindakan untuk menenangkan keadaan, saya peluk teman saya dari belakang dan berusaha untuk menenangkannya.

Saya masih ingat dengan jelas bagaimana konflik yang ada menjadi semakin mengerikan dengan emosi yang tidak terkendali, plus dengan pembagian konsentrasi si pengemudi, antara mengemudi, menelepon sambil emosi dan campur tangan kekasihnya. Aih, tak terbayangkan rasanya bila kami mengalami kecelakaan hanya karena emosi yang tidak bisa dikendalikan.

Banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang pengemudi kendaraan, bahkan untuk benda apa pun yang sedang dikendarai. Bukan hanya konsentrasi penuh dengan kondisi jalan raya atau keadaan yang selalu tidak kondusif, tetapi juga kondisi mental dari si pengemudi itu sendiri. Faktor internal maupun faktor eksternal sama-sama memiliki porsi yang seimbang ketika sedang berada di jalan raya.

Meskipun tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang, tapi kita masih bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik sebelum benar-benar dijemput oleh malaikat Izrail. Ketika berkendara, silahkan Anda menetapkan pilihan sendiri, memilih emosi atau sabar sebagai pengawal pribadi hingga sampai ke tujuan.

Semoga kita dapat berkendara dengan lebih sabar, lebih hati-hati dan lebih bijak J


230712

2 komentar:

ninuk endahsl mengatakan...

ya allah ckck
aku pilih sabar aja deh hehe
walopun lambat asal selamat sampe tujuan :)

Rumah Blog Indonesia mengatakan...

benar ninuk , alon2 asal kelakon :)

Posting Komentar

ShareThis