6 Juli 2012

Saya Malu Pada Kuntilanak


Anekdot tentang salah satu makhluk halus yang menakutkan, yaitu kuntilanak, memang sudah lama terdengar, tapi bagi saya anekdot itu masih tetap saja lucu, apalagi bila dikaitkan dengan gaya busana wanita sekarang, saya kira Anda juga sudah pernah mendengar tentang anekdot ini.

Anekdot sederhana yang berbunyi seperti ini “Kuntilanak itu lebih sopan daripada wanita kebanyakan, meskipun sama-sama wanita dan berbeda wujud atau dunia, tapi kuntilanak tetap tidak terpengaruh dengan busana yang ‘kurang bahan’, lihat saja pakaiannya, masih tertutup rapat dari pundak sampai ke ujung kaki”

Anekdot yang cukup menghibur bila dijadikan lucu-lucuan atau sekedar banyolan. Namun, tidak banyak orang yang mau mengambil hikmah apa yang terkandung dari seloroh tersebut. Sebuah sindiran tersemat di dalam anekdot itu, ya, sindiran bagi kami, para wanita, atau lebih khususnya bagi wanita yang hobi atau senang menggunakan pakaian serba minim.

Betapa menyedihkan bila para wanita harus dibandingkan dengan wujud kuntilanak, yang notabene  dalam hal berbusana. Apakah gaya berpakaian wanita sudah sangat melampaui batas, dalam artian sudah tidak bisa menjaga adat kesopanan atau ketimuran? Memang ada kerancuan, ketika beberapa wanita yang membawa nama Indonesia selalu membanggakan adat istiadat ketimuran yang berasal dari Indonesia, namun ketika dilihat dari caranya berbusana saja sudah tidak mencerminkan apa yang dia utarakan.


Terlepas dari apakah budaya yang diikuti dan dilakukan oleh wanita mengikuti cara berbusana dari pakaian adat atau justru hanya mengambil sisi ketimurannya saja, wanita tetaplah harus menjaga norma-norma kesopanan yang melekat erat pada tubuhnya. Sedikit saja ada belahan yang terbuka dan memperlihatkan bagian intim tubuh wanita, maka segala mata akan tertuju padanya, bahkan semua mulut pun akan ikut-ikutan berkomentar. Ingat, hanya satu belahan saja dari tubuhnya wanita mampu mengguncangkan dunia dengan berita yang menghebohkan.

Apa yang bernama fashion atau style selalu hadir di dunia wanita, seperti bling-bling yang berkilauan dan menyilaukan mata, terlihat cantik dan indah tapi juga bisa mendatangkan bencana. Seperti juga HAM yang sering dielu-elukan oleh orang-orang, wanita juga memiliki kuasanya sendiri atas bagaimana dia berbusana.

Tapi, bagi saya pribadi, saya masih merasa malu bila dibandingkan dengan kuntilanak dalam hal berpakaian. Dia yang tidak pernah berdandan, masih tetap terlihat elegan dengan rias wajah yang pucat pasi dan rambut panjang yang terurai (tentunya rambut panjang alami dan bukan rambut sambung), sungguh berbeda dengan tata rias wanita yang ingin telrihat cantik tapi justru malah terlihat menor. Pakaian kebesaran yang selalu sama dari generasi ke generasi seperti menjadi icon dan ciri khasnya, yaitu pakaian serba putih dan berbentuk jubah panjang, tidak ketat sama sekali, tidak transparan dan tidak kekurangan bahan, sungguh berbeda dengan style wanita yang serba “hemat” dalam menggunakan bahan. Meski pun begitu, tetap ada satu hal yang tidak saya sukai, ketawa melengkingnya itu yang masih tampak menyeramkan, hhhiiiii….

Selamat menikmati Jum’at ceria J



060712

2 komentar:

NF mengatakan...

anekdot tentang kunti emang banyak mba, salah satunya : kunti.. walaupun sedih tapi selalu tertawa... hihihiihihihi :P

mengenai kostum... eeeee.... gimana ya? kadang galakan yang ditegur sih daripada yang negur

Rumah Blog Indonesia mengatakan...

@NF : hahahaha... iya, ketawa cekikikannya itu yg mengerikan, hhhiiiiii....
wkwkwkw... salah kostum kali ya, ketuker :p

Posting Komentar

ShareThis