3 April 2014

Berkomitmen Untuk Komitmen

Semua orang memiliki banyak keinginan, memiliki banyak harapan, memiliki banyak rencana. Semua orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam. Tetapi tidak semua orang mampu untuk melakukan management time untuk melaksanakan semua hal yang diinginkan atau yang direncanakan itu. Begitu pula saya, salah satu diantara banyak orang yang memiliki segudang rencana dan keinginan.

Management time, topik yang sering dibicarakan oleh orang-orang sibuk dan super sibuk dengan kegiatannya. Topik yang teorinya sangat mudah dipelajari tapi sangat sulit untuk dilakukan. Kuncinya Cuma satu, yaitu komitmen. Dan, untuk kesekian kalinya, tidak mudah juga untuk berkomitmen pada komitmen yang kita buat sendiri, hehehe…

Management time, untuk saat ini saya juga sedang bekerja keras dan berusaha untuk tetap berkomitmen pada komitmen saya untuk me-manage waktu. Siapa pun pasti akan tergoda dengan rayuan pulau kasur beserta bantal dan gulingnya, apalagi ketika tubuh telah lelah, maka godaan tersebut sangat menggoyahkan iman. Ya, kembali lagi kepada diri kita sendiri, kuat atau tidak untuk berpegang teguh pada komitmen yang telah dibuat.

Saya ini memiliki banyak keinginan, menumpuk dan mulai usang, semakin “berkarat” dengan berbagai macam alasan untuk menunda melakukannya. Saya sangat suka membaca, suka menulis, suka mendesain, suka berkreatifitas dengan barang-barang tidak terpakai, suka mencari ilmu, suka berpikir, dan suka-suka lainnya :D Tapi, waktu 24 jam itu akan terbuang percuma bila saya sendiri tidak bisa melakukan pembagian yang adil untuk kesemua hal yang saya sukai itu.

Satu hal yang saya tanamkan bahwa sesibuk dan sebanyak apa pun kegiatan saya, saya tetap harus meluangkan waktu untuk mencari amal untuk akhirat. Hey, kehidupan ini kan tidak melulu tentang duniawi, tapi juga tidak melulu tentang akhirat. Jadi, pintar-pintarlah untuk me-manage waktu untuk menyeimbangkan kedua dunia tersebut.

Satu hal lagi, kehidupan ini juga tidak melulu tentang “mengasingkan diri” dan berkecimpung dengan kesibukan sendiri (saya lebih suka menyebutnya sebagai sosok autis –sibuk sendiri-), juga tidak melulu sibuk dengan obrolan yang simpang siur yang ada di pertemuan-pertemuan. Jadi, pintar-pintarlah untuk me-manage waktu untuk menempatkan diri, kapan saatnya untuk bertindak autis (autis yang menghasilkan karya tentunya) dan kapan saatnya untuk bersikap sosial.

Kalau ditanya ke saya-nya, bagaimana proses management time yang telah saya lakukan? Hhhmmm Insya Allah baru dimulai dan saya usahakan untuk tetap mempertahan komitmen ini. Anda tahu, ada banyak hal yang terasa sangat indah bila kita melakukannya dengan penuh rasa ikhlas dan syukur. Anda tahu bagaimana melihatnya? Lihatlah pada cermin, apakah bibir Anda memberikan senyuman yang penuh keteduhan, disitulah letak keikhlasan Anda menjalani hidup J


Wallhu’alam…


-030414-

0 komentar:

Posting Komentar

ShareThis