2 April 2014

Kompetisi Kesombongan

Setiap orang menyandang status sebagai seorang “pelajar”, meskipun dia telah menyelesaikan pendidikan formal atau non-formalnya. Pelajar disini dalam artian belajar dari proses kehidupan. Ya, kita semua adalah pelajar abadi sampai keabadian itu sendiri yang merenggutnya.

Tidak bisa dipungkiri dalam sebuah majelis pembelajaran yang memiliki banyak pelajar, kita akan menemukan banyak getaran kompetisi. Merasa diri paling bagus, paling hebat, paling berpengalaman, paling tahu, paling mengerti, dan paling lainnya. Kompetisi itu sendiri pada dasarnya baik untuk perkembangan kita, namun jangan sampai jatuh ke dalam jurang kesombongan atau keangkuhan.

Wajar memang bila kita merasa diri kita adalah yang paling diantara lainnya, itu manusiawi, itu sebuah naluri untuk mendapatkan gelar. Wajar juga kiranya bila “kesombongan” itu diolah menjadi bentuk cemelut untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi. Tapi yang tidak wajar adalah bila menjadi benar-benar sikap angkuh, naudzubillah…

Setiap orang pasti memiliki kesalahan, pasti akan melakukan kesalahan, yang membedakannya adalah apakah seseorang itu mau belajar dari kesalahannya dan memperbaikinya. Kesalahan bukan sekedar vonis yang dijatuhkan sebagai bentuk peringatan, namun juga sebagai pengingat bahwa kodrat kita sebagai manusia adalah tempatnya salah dan khilaf.

Begitu juga bila kita berkumpul dalam majelis pembelajaran, pasti akan bertemu dengan “kesalahan”. Jangan takut berbuat salah (dalam artian positif), bila kita tidak melakukan kesalahan, maka kita tidak akan tahu apa kebenarannya dan kita tidak akan bisa mengetahui sampai dimana kemampuan diri kita.

Keterkaitan antara kesalahan dengan kompetisi kesombongan terletak pada esensi ilmu yang akan didapatkan. Ada orang yang berbuat salah tapi langsung menyadari kesalahannya dan kemudian memperbaikinya. Ada orang yang harus diingatkan dulu akan kesalahannya baru kemudian memperbaikinya. Ada juga yang sudah tahu berbuat salah tapi tetap saja melakukannya. Dan ada yang berbuat salah, sudah diingatkan tapi masih saja kekeuh dengan pendiriannya. Wallahu’alam…

Kompetisi kesombongan tentu masih luas cakupan arti dan pengertiannya. Saya sendiri masih berusaha untuk mencerna dan menitikbalikkan topik ini kepada diri saya sendiri. Pemahaman setiap orang berbeda, perspektif orang juga berbeda, maka cara untuk menyikapinya tentu saja berbeda. Jadi, marilah kita menjadi golongan orang-orang yang mau untuk berpikir untuk terus memperbaiki diri sendiri.


-020414-

0 komentar:

Posting Komentar

ShareThis