9 September 2011

Wasit Untuk Para Nafsu Sesaat

Untuk kesekian kalinya saya melakukan pengobatan alternatif untuk penyakit kanker payudara yang saya idap. Dan untuk kesekian kalinya, hampir semua orang yang mengobati saya mengatakan berbagai pantangan makanan yang harus saya patuhi untuk tidak dikonsumsi.

Dari beberapa pengobatan alternatif tersebut dapat saya tarik hipotesa tentang makanan yang “diharamkan” untuk dikonsumsi bagi para penderita kanker, khususnya kanker payudara. Makanan tersebut diantaranya adalah daging merah (baik daging lembu atau daging kambing), telur, susu dan berbagai turunannya, kacang, makanan fast food, dan makanan yang mengandung berbagai macam pengawet.
Memang terlihat hanya beberapa kategori makanan yang pantang untuk dikonsumsi, tapi kalau di lihat dan di teliti lagi, huaaa… banyak juga ya makanan yang tidak boleh saya makan. Mau tidak mau, ingin tidak ingin ya tetap harus dilaksanakan, untuk kebaikan diri sendiri, untuk kesembuhan yang telah lama dinantikan.

From Google
Namanya juga manusia, selalu ada salah dan khilaf, hehehe…. Siang-siang bolong dan terik-teriknya matahari bersinar, betapa nikmatnya dunia saat menyantap sebatang es Magnum, slllrrrrpppp…. Eaaa… pelanggaran pertama (atau telah menjadi pelanggaran untuk kesekian kalinya), kartu kuning, tapi entah sudah berapa kartu kuning yang keluar dan telah berganti menjadi kartu merah, hahaha, wasitnya pun mulai kehabisan kartu kuning dan merah.

From Google
Siapakah wasit untuk makanan yang “diharamkan” itu? Wasit utama sebenarnya adalah diri kita sendiri, diikuti oleh wasit pendamping yaitu orang-orang yang menyayangi kita, bisa orang tua, keluarga, sahabat, kekasih bahkan teman. Merekalah yang selalu setia memberikan kartu kuning dan kartu merah kepada para penderita kanker seperti saya, hahaha. Sebuah isyarat yang menyenangkan, walaupun terkadang bete dan kesal karena dimarahin dan dilarang tapi terselip juga rasa bahagia karena mendapat perhatian ekstra.

Janganlah menjadi pasien yang manja dan berusahalah untuk menjadi pasien yang tahan banting dengan segala cobaan makanan “haram” yang menggiurkan tersebut. Meskipun silap, selalu saja memberikan tampilan wajah cengengesan jika ketahuan melanggar peraturan dan memakan makanan pantangan. Hal itu bukanlah hal yang terpuji kawan, meskipun saya sendiri sering melakukannya. Belajarlah dari pengalaman orang lain dan pengalaman kita sendiri.

Jangan membuat orang lain sedih dengan kondisi dan keadaan kita yang semakin memburuk karena ulah kita sendiri. Menikmati secuil kenikmatan dunia, menikmati “ke-haram-an” makanan, yang ternyata hanya menjadi kebahagiaan semu, kepuasaan sesaat, namun berakibat sangat hebat. Bukan hanya memberikan efek kepada diri sendiri namun juga efek kepada orang lain.

Memang susah menjaga nafsu, apalagi saat sedang ingin-ingin-nya, atau bisa dibilang saat sedang “ngences” berat. Memang susah melawan dan menahan nafsu makan yang membabi buta untuk menyicip makanan pantangan. Apalagi ketika setan telah membisikkan kalimat bujuk rayuan mautnya di telinga, dengan lembut si setan mengatakan “udah, makan aja, toh cuma sedikit” atau “udah, makan aja, nyicip sedikit aja, ngerasain apa sie rasanya” atau “udah, makan aja, sekalian nyobain, beneran enak atau nggak” dan masih banyak rayuan maut lainnya.

From Google
Kembali kepada diri sendiri. Pagarilah diri Anda dengan iman yang benar-benar kuat. Jika benar-benar ingin sembuh, cobalah matikan untuk sementara semua nafsu bejat makanan “haram” itu, hingga tiba waktunya disaat Anda telah benar-benar sembuh dan diperbolehkan untuk memakan makanan pantangan, tentu dengan batasan yang normal. Saya juga masih dalam tahap belajar untuk mengendalikan nafsu untuk memakan makanan “haram” itu. Hingga suatu ketika, saya tidak tahan lagi dan pergi ke kedai bakso, saya makan bakso!

Serasa sudah jatuh air liur saya sejak dari rumah, “ngences” abis deh pokoknya. Pesan bakso semangkuk plus dengan mie-nya. panas-panas dan pedas-pedas, begitulah saya dengan lahapnya memakan si bakso. Enak sie, terlampiaskan sudah nafsu sesaat itu. Tapi apa yang terjadi? Huaaa… benjolan di payudara saya mulai berdenyut tidak karuan, sakitnya minta ampun ya Allah. Benar-benar tobat saya dibuatnya. Plus dengan lidah yang mulai terasa kebal, mungkin karena terlalu banyak bahan penyedap yang digunakan.

Menderitalah saya hanya karena semangkuk bakso yang lezat itu. Nikmat sesaat, menderita kemudian, hiks hiks hiks…. Hikmahnya adalah, saya memang membiarkan diri mengikuti apa maunya nafsu yang mulai meledak untuk segera dituruti apa keinginannya. Saya biarkan dan memberikan apa yang nafsu inginkan, agar diri saya sendiri mengetahui apa akibatnya, apa efek fatalnya. Saya yang berbuat, maka saya juga yang bertanggung jawab.

Hal positifnya adalah akhirnya saya kapok untuk makan bakso lagi, hahaha…. Pelajaran yang sangat berharga. Dari diri, untuk diri dan kembali lagi ke diri sendiri. Bisa berbuat, maka harus bisa pula bertanggung jawab. Bisa mengambil keputusan, maka harus bisa dan mampu pula menerima semua konsekuensinya. Bisa memilih, maka harus bisa pula menerima resiko.

Just up to you friend. Love your body, love your heart, love your health, love your family.
Let’s make big war to “evil” foods ^___^v

Medan - 090911

2 komentar:

Retno wulandari mengatakan...

Salut bngt buat semangatny mb irda..
Speechless sy jdny..

Irda Handayani mengatakan...

@mb Retno : terima kasih mb :) Apapun itu, saya harus tetap melanjutkan hidup dgn penuh semangat :)

Posting Komentar

ShareThis